Siklus Pangan Anak Kos

Catatan Kampus Holic - Siklus-Pangan-Anak-Kos

     Minggu lalu cuaca di daerah kos gua berangin kenceng, sekarang berubah menjadi angin dingin. Iya, cuaca saat ini lagi cepet berubah – ubah. Seperti judul skripsi yang selalu berubah – ubah di setiap bimbingan. Atau seperti impian mahasiswa yang selalu berubah, dari lulus 3.5 tahun saat maba, lalu bermimpi jadi bos di perusahaan multinasional, terus berubah lagi jadi penerusnya Steve Jobs atau Bang Mark Zuckerberg, dan terakhir pas nyadar udah 12 semester di kampus, barulah dia menyederhanakan mimpinya menjadi “Yang Penting Lulus”..Mantapss

Dingin – dingin gini enaknya ngomongin yang anget – anget, kayak pelukan sama segelas air hangat. Berhubungan di depan kos gua enggak ada penjual bakso, gua gak bisa deh ngomongin bakso. Lagian kalaupun ada penjual bakso di sana, gua juga enggak bakal ngebahas itu. Mendingan ngomongin kehidupan kita berdua nanti saat membina rumah tangga aja..asekk

Oke, karena nyadar gua jomblo, gua batal ngomongin masalah rumah tangga. Mending gua ngomongin isu penting yang selalu berkembang di kalangan mahasiswa, khususnya mahasiswa anak kos. Isu ini tetap terus berkembang hingga ke era digital seperti saat ini. Mungkin perlu ada startup hebat yang mampu menyelesaikan permasalahannya..Yakk isu siklus pangan anak kos.

Mari kita membahasanya satu persatu sambil minum kopimix

Oke, anak kos gagal memiliki perencanaan tentang ketahanan pangan yang baik di awal bulan. Masih tingginya saldo di atm membuat mereka kehilangan arah. Setiap tempat makan hits kekinian memanggilnya untuk mampir sejenak. Sejenak terlena oleh pesona tempat – tempat makan hits tersebut, lembar demi lembar biru dan merah melayang di balik senyum  foto – fotonya di tempat makan tersebut. Akhirnya di seminggu pertama, mereka gagal membuat forecasting, budgeting, dan inventory planning untuk hidup mereka selama satu bulan. Ceilah bahasanya.

Tersadar akan budget satu bulannya sudah tinggal setengah, mereka menerapkan prinsip ekonomi. Mereka akan membuat list di mana saja tempat makan yang sehat di kantong dan mampu memberikan kepuasan yang maksimal dari segi kualitas rasa dan rasa kenyang. Sejak saat itu lah mereka rutin lagi bersilaturahmi di burjo, warteg, atau angkringan.

Di minggu ini komposisi menu dalam satu porsi makan juga berubah. Jika minggu pertama seporsi terdiri dari nasi, sayur, ayam goreng, telur dadar, dan kerupuk, di minggu ini menjadi nasi, sayur, dan telur dadar.

Minggu kedua telah terlewati. Hhmm rasanya sudah banyak penghematan, tapi ternyata masih dua minggu lagi men untuk sampai ke tanggal satu berikutnya. Di titik ini para anak kos mulai mengambil langkah tegas, beli mie instant. Dengan asumsi sebungkus mie instant Rp 2.500 lalu sehari makan tiga kali dengan mie instant, selama seminggu hanya menghabiskan Rp 52.500 untuk makan satu minggu. Oke, dengan uang segitu masih bisalah beli segelas kopi instant tiap hari.

Kreativitas itu muncul saat mendekati deadline. Ya, di minggu – minggu sebelum awal bulan biasanya mahasiswa anak kos makin kreatif dan makin liar imajinasinya untuk hal pangan. Sebagian mahasiswa akan berharap jumlah teman – temannya yang ulang tahun menjadi 7 orang dalam seminggu. Artinya tiap hari ada traktiran makan gratisan. Mayan cuy

Sebagian lainnya tiba – tiba rajin mencatat. Yang biasanya duduk di belakang sambil ngantuk, main game, atau malah enggak ikutan kuliah, semuanya jadi rajin mencatat. Tapi, mencatat bon di warung – warung makan. Warung makan ini udah punya keakraban level dewa dengan mereka. Sama yang jualan, mereka udah enggak lagi manggil Mas atau A’, tapi cuy atau sob. Selain itu kalau mau makan dan minum udah main ambil sendiri, berasa kayak di rumah sendiri.

Btw, itu kok bikin catetan, emang punya bolpen?Tenang Sob, tadi udah ambil bolpen dari temen bangku sebelah waktu tanda tangan absen.

Oke sekian post blog gua kali ini tentang siklus pangan mahasiwa anak kos. Untuk menutup post kali ini gua akan memberikan sebuah peribahasa yang sangat terkenal, yaitu

Tiada anak kos yang tak makan mie instant

About kampusholic

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *