Tour De Jangkrik

Liburan itu identik dengan jalan-jalan. Entah itu jalan-jalan ke mall, ke rumah pacar, ke kampus mantan, ke tempat pariwisata, atau jalan-jalan ke hati calon gebetan. Tapi yang pasti, dengan jalan-jalan kita semua berharap mendapatkan satu suasana baru yang menyenangkan hati dan membuat liburan ini menjadi penuh warna.

Ngomongin jalan-jalan, mahasiswa itu hobinya jalan-jalan. Di musim liburan pasti ada aja yang ngajak jalan-jalan bareng seangkatan ke suatu tempat wisata dengan naik motor bareng atau yang biasanya disebut dengan touring. Sayangnya touring yang diharapkan menyenangkan akan berubah menjadi Tour De Jangkrik gara-gara ada berbagai  mahasiswa ajib bin absurb yang menjadi peserta touring.

Diko dan Edi sebagai panitia senior Tour De Jangkrik yang sudah menangani event ini selama dua digit semester berturut turut, akan berbagi pengalamannya saat menjadi panitia Tour De Jangkrik.

Let’s begin

Touring angkatan adalah kegiatan yang hobinya dadakan. Mulai dari panitia touring yang dibentuk secara dadakan kurang dari seminggu sebelum event berlangsung. Panitia ini setiap tahunnya hanya itu-itu saja yang memang hobinya jalan-jalan. Akan tetapi touring angkatan enggak akan pernah ada tanpa hadirnya para panitia pencetus ide touring.

Pembentukan panitia selesai
selanjutnya adalah menentukan lokasi tujuan. Penentuan lokasi ini bukan hal yang susah karena umumnya hanya ada satu-dua lokasi yang diusulkan dan kurang dari 10 menit lokasi akan diputuskan.

     Diko “Semester ini touring ke mana Ed?”
     Edi “Ke hatinya dosen pembimbing bro”

Lokasi beres, maka panitia akan menuju plotting peserta. Peserta paling banyak di dominasi oleh teman-teman terdekat panitia dan para pengurus angkatan. Panitia wajib memplotkan peserta agar semuanya mendapat kendaraan dan tebengan untuk touring. Pada titik plotting ini biasanya touring mulai memasuki tahap metamorfosis menjadi Tour De Jangkrik.

Pada saat ploting peserta ini biasanya terlalu banyak request yang membuat panitia bingung. Tipe Pacaran Dimana-mana request agar mereka diplotkan satu motor agar bisa bareng trus. Mereka ingin bisa naik motor sambil pelukan di jalan, ngobrol di jalan, suap-suapan di jalan dan bimbingan skripsi di jalan.
Oke yang terakhir gag nyambung.

Selain itu masih ada aja peserta yang minta aneh-aneh seperti ini
     Diko “Gue maunya nebeng Edi”
     Edi “Gue nebengin Nabila ya”
     Fredo “Gue mau ikut tapi enggak pakai motor gue ya”
     Peserta 1 “Gue maunya nebeng Diko”
     Peserta 2 “Kalo gag ada Diko n Edi gue gag jadi ikut”

Waktu berlalu dan hari H pun tiba. Pada hari inilah acara Touring benar-benar akan menjadi Tour De Jangkrik. Dimulai dengan jam kumpul yang dijamin ngaret. Di sini Peserta Tipe Ngaret akan mendominasi permainan. Saat jam kumpul jam 7 maka jam kumpul sebenarnya adalah jam 9 pagi. Dan ketika udah kumpul masih aja ada kelakuan peserta yang bikin panitia geleng-geleng pas mau berangkat
     Fredo “bro gue pipis dulu ya bentar”
     Diko “bro gue beli bensin dulu”
     Rahmat “gue jemput pacar dulu bro”
     Edi SMS “bro gue baru bangun. Ntar gue nyusul aja ya atau gag ikut sekalian haha”
Yang terakhir minta dikeplak beneran

Acara ngaret kumpul selama 200 menit udah lewat. Sekarang waktunya berangkat touring. Touring di pimpin oleh Peserta Tipe Penunjuk Jalan. Mahasiswa satu ini pasti ada di depan dan paling dibutuhkan touring. Seluruh nasib peserta touring ditentukan olehnya. Petunjuk jalan senior akan menunjukkan jalan berdasar pengalamannya menghafal rute jalan, bahkan terkadang mereka sulit di bedakan dengan GPS. Petunjuk jalan junior akan menjadi leader dalam touring dengan berbekal GPS dan ingatan seadanya, mereka dengan PeDe nya nunjukin jalan, walau akhirnya banyak berujung nyasar.

Berangkat bukan berarti semuanya akan lancar. Akan ada kejadian-kejadian tidak terduga yang membuat touring semakin jauh dari rencana. Pertama adalah ban bocor. Udah jadi masalah klasik touring kalau di tengah jalan harus berhenti buat nungguin motor lain yang lagi nambal ban bocor.  Kedua adalah masalah dari Tipe Peserta Ketinggalan. Tipe ini bisa ketinggalan karena peserta yang lain naik motornya pakai Valentino Rossi Style atau mereka salah ngikutin orang.

     Diko “Lo kog bisa nyasar?”
     Peserta “Gue udah ikutin saran lo ngikutin yang warna merah”
     Diko “Lah, udah bener Edi yang pakek baju merah. Kog masih nyasar”
     Peserta “Iya warna merah, tapi yang rodanya 18”

Pada saat sampai di lokasi tujuan panitian udah siap dengan berbagai acara. Sayangnya karena banyak peserta yang gagal fokus, acara tadi pun mendadak berubah total. Peserta lebih suka jalan-jalan sendiri sambil foto-foto dengan pasangan atau sahabat terdekatnya. Satu-satunya acara yang bakal berjalan bersama hanyalah makan siang. Makan siang ini adalah makan siang yang bukan makan siang karena waktunya udah telat.

Acara di tempat tujuan pun enggak akan banyak waktu karena udah habis di saat kumpul di kampus dan di perjalanan. Hasilnya mereka akan buru-buru pulang karena takut sampai rumah ke malaman. Di perjalanan pulang sebagian ada yang mampir makan lagi dan sebagian lagi langsung pulang. Dan Tour De Jangkrik hari itu semakin lengkap dengan turunnya hujan di perjalanan pulang.
*naik motor sambil berharap cepat sampai rumah*

gambar lebih besar klik disini

Dan,,

Demikian pengalaman dari Diko dan Edi sebagai panitia senior Tour De Jangkrik. Semoga bisa memberikan gambaran buat kalian panitia Touring di manapun kalian berada.
Menurut gue

Touring itu bukan masalah jauh atau dekat, yang penting semua bahagia”

About kampusholic

5 thoughts on “Tour De Jangkrik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *